Thursday, January 13, 2011

LELAKI YANG SESUKAHATI MEMILIH BIDADARI

Lelaki yang sesuka hati memilih Bidadari
Oleh : Ibnu Abdul Bari el `Afifi
Abu Darda` berkata, “Man ghaddha basharahu
`ani-n nadhari-l harâmi zuwwija mina-l hûri-l `în
haitsu ahabba, barangsiapa menundukkan
pandangannya dari yang haram, ia akan
dinikahkan dengan bidadari mana yang ia
cinta.” (Risalatu-l Mustarsyidin, Haris al Muhasibi,
Daru-s Salam).
Diantara tantangan terberat yang dihadapi para
lelaki saat ini adalah menjaga pandangan mata
dari melihat wanita yang tidak halal baginya.
Bagaimana tidak? Berbagai media seperti Tv, surat
kabar, dan internet selalu mempertontonkan aurat
wanita. Tragisnya, kaum hawa ikut terpengaruh
sehingga mereka tanpa malu membuka bagian
tubuh yang tidak layak diperlihatkan kecuali
kepada suaminya tercinta. Sekali lagi, tantangan
ini sungguh berat. Terlebih bagi lelaki yang lemah
iman, dan tidak memiliki pendirian kokoh.
Rasululloh pernah bersabda kepada segenap
wanita seusai khutbah Iedul Adha, “Mâ min
nâqishâti aqlin wa dînin adzhaba li lubbi-r rajuli-l
hâzimi min ihdâkunna, tidak ada orang yang
kurang akal dan agamanya yang bisa
melenyapkan akal lelaki yang berpendirian kuat
selain daripada kalian, wahai para wanita.”
Logikanya, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh
Utsaimin rahimahullah ketika men-syarah
riyadhu-s shalihin, kalau lelaki yang punya
pendirian sedemikian kuat saja bisa tertaklukkan
oleh wanita, apatah lagi dengan lelaki rendahan
yang tidak memiliki pendirian, azzam, agama dan
kejantanan, tentu lebih dahsyat lagi. Karena itulah,
tulisan ini ditulis. Semata-mata untuk saling
menasehati, di atas kebenaran dan ketakwaan.
Insya’Allah.
Artikel ringan ini menjelaskan urgensi menjaga
hati dengan menundukkan pandangan mata dari
hal yang diharamkan. Merekalah lelaki yang
dirindu bidadari di akherat kelak. Merekalah lelaki
sejati yang mampu menaklukan dorongan hawa
nafsunya sehingga dijanjikan jannah oleh sang
pemilik hati hamba-hamba-Nya, Allah Ta’ala.
Lihatlah betapa Allah menjanjikan jannah bagi
mereka melalui firman-Nya, “Wa ammâ man
khâfa maqâma rabbihi wa naha-n nafsa `ani-l
hawâ fa inna-l jannata hiya-l ma`wâ. Dan adapun
orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya, dan
menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,
maka jannah adalah tempat tinggalnya.” (an
Nazi’at : 40-41). Karena orang yang mampu
mengendalikan hawa nafsunya dari memandang
yang haram, adalah orang bertakwa; yang takut
kepada keagungan Allah Ta`ala, “Wa li man khâfa
maqâma rabbihi jannatân. Dan bagi orang yang
takut akan kedudukan Tuhannya ada dua
jannah.” (ar Rahman : 46). Ya, dua jannah,
semuanya diperuntukkan bagi orang yang takut
kepada Rabb-nya. Takut yang menghalanginya
untuk melihat apa yang tidak halal baginya.
Tentang ayat ini, Mujahid berkata, “Yaitu orang
yang ketika hendak melakukan maksiat, dia ingat
akan kedudukan Allah, hingga ia tidak jadi berbuat
maksiat.
Janji Allah ini tidaklah berlebihan. Sama sekali
tidak. Innama-l jazâ`u min jinsi-l `amal. Balasan
sesuai dengan amalan. Karena menundukkan
pandangan dari apa yang diharamkan tidaklah
mudah, bahkan sangat berat. Sufyan ats Tsauri
dalam menafsirkan firman Allah, “Wa khuliqa-l
insânu dha`ifâ, dan manusia diciptakan dalam
kondisi lemah.” (an Nisa` : 28), menyebutkan,
“Jika ada seorang wanita yang berjalan didepan
seorang laki-laki, maka laki-laki tersebut tidak akan
mampu untuk tidak melihatnya. Hatinya akan
tertusuk oleh virus kecantikan wanita tersebut.
Adakah sesuatu yang lebih lemah daripada ini?”
Menjaga Hati dengan Menjaga Pandangan
Mata
Apa korelasi menjaga hati dengan menjaga
pandangan mata yang diharamkan? Korelasinya
sangat erat. Karena pandangan menghasilkan
getaran hati, getaran hati menghasilkan pikiran,
pikiran melahirkan syahwat, syahwat melahirkan
hasrat dan hasrat melahirkan niat. Bila niat sudah
kuat, maka yang dilarang akan terjadi dan jatuh
dalam lembah maksiat.
Hati bagaikan sebuah rumah, dan mata adalah
pintunya. Pencuri baru bisa masuk rumah jika
pintunya terbuka. Jika masuk, pencuri itu akan
mengambil perhiasan iman dan mutiara takwa,
serta meninggalkan hati dalam keadaan
berantakan. Gerakan pencuri ini sangat lincah.
Dengan sigap, ia dapat menyelinap. Sehingga,
ketika ditanya tentang pandangan yang sekejap
saja, Rasululloh bersabda, “Palingkanlah
pandanganmu.”
Karena mengumbar pandangan adalah dosa.
Dosa yang akan membuat pelakunya malu untuk
bersua Rabbnya. Di dalam al Fawa’id, Ibnu
Qayyim al Jauziyah meneliti beberapa penyakit
yang menyebabkan matinya hati. Dalam
kesimpulannya, dia menetapkan beberapa
pengaruh negatif dari dosa-dosa, “Sedikitnya
pertolongan, salahnya pendapat, samarnya
kebenaran, lemahnya ingatan, tersia-sianya
waktu, kebencian orang lain, keterasingan
antara hamba dengan Tuhannya,
terhalangnya doa, kerasnya hati, hilangnya
keberkahan dalam rizki dan umur, hilangnya
ilmu, melekatnya kehinaan, kerendahan
martabat di hadapan musuh, sempitnya dada
dan lain sebagainya. ”
Dari semua itu, yang tersisa hanyalah ketakutan
untuk bertemu dengan Dzat yang Maha Adil, dan
ketakutan akan hisab dan siksa. Oleh karena itu,
ingatlah selalu pesan Ibnul Jauzi, “Jauhkanlah diri
anda dari dosa. Jika di dalamnya hanya ada
ketakutan untuk bertemu (dengan Allah),
maka itu sudah cukup sebagai siksaan. Saat
yang paling indah bagi Nabi Ayyub adalah
tatkala ia melihat lagi anaknya, Nabi Yusuf;
dan saat yang paling sulit bagi saudara-
saudara Yusuf adalah ketika bertemu
dengan Yusuf. ”
Lihatlah, betapa saudara-saudara Yusuf gugup
dengan wajah memerah malu ketika orang yang
ada didepannya bertanya kepada mereka, “Qâla
hal `alimtum mâ fa`altum bi yûsufa wa akhihi idz
antum jâhilûn?” mereka berkeringat dingin
mendengar pertanyaan dari lelaki yang kemudian
diketahui sebagai saudaranya, Yusuf; adik yang
berpuluh-puluh tahun yang lalu pernah mereka
jeburkan ke dalam sumur. Kepala mereka
tertunduk. Malu dan berasa bersalah. Dengan
bibir bergetar mereka menjawab lirih, “Qâlu
ainnaka la anta Yûsuf.”
Ah, ketika membaca jawaban saudara-saudara
Yusuf ini, selalunya ada rasa aneh yang
menyelusup dalam jiwa seolah bisa merasakan
kekalutan jawaban mereka….., kalau hanya
bersalah kepada manusia sudah membuat kita
malu bertemu, lalu bagaimanakah kita meletakkan
muka kita di hadapan Dzat yang mengetahui
semua detail tingkah laku kita; besar-kecilnya,
samar-jelasnya, tersembunyi-tampaknya…..,
tanpa ada sesuatupun yang luput dari-Nya? “Wa
ma kana rabbuka nasiyya, dan Rabbmu tidak
pernah lupa.” (Maryam : 64). Allâh…
allahummaghfirlanâ wa tub alainâ…., ampuni
kami ya Rabb
Mereka adalah Teladan kita
Ikutilah jalan salafus shaleh. Segarkan dirimu
dengan sejarah hidup mereka. Hidupkan hatimu
dengan mengingat mereka. Dan ikutilah jejak
mereka niscaya engkau akan menjadi manusia
mulia; dihadapan Allah dan juga segenap
manusia.
Rabi’ bin Khutsaim, murid Abdullah ibn Mas`ud
yang paling mulia, selalu menjaga pandangan
matanya. Pada suatu hari ada sekelompok wanita
yang mengira bahwa Rabi’ adalah buta, kemudian
mereka memohon perlindungan kepada Allah
dari kebutaan;
Hasan ibn Abu Sinan. Selesai shalat `Ied, ada
yang berkata kepadanya, “Kami belum pernah
melihat shalat `Ied di mana jama`ah
perempuannya banyak seperti ini.” Kemudian
beliau menjawab, “Aku tidak bertemu dengan
seorang wanita pun sampai aku pulang.”
Daud ibn Abdullah. Ketika sebagian pejabat
Bashrah mencarinya, Daud bersembunyi di
rumah salah seorang sahahabatnya. Sahabatnya
itu memiliki istri yang dijuluki Zarqa (wanita
bermata biru) yang berparas cantik. Ketika
suaminya hendak keluar rumah, ia berpesan
kepada Zarqa agar bersikap santun dan melayani
Dawud dengan baik. Setelah kembali ke rumah,
sahabatnya tadi bertanya kepada Daud,
“Bagaiman sikap Zarqa kepadamu?” Daud malah
bertanya, “Siapa itu Zarqa?” sahabatnya
menjawab, “Dia adalah ibu rumah ini (istriku).”
Daud berkata, “Aku tidak tahu, apakah ia bermata
biru atau bermata hitam.” Ketika sang suami
melihat Zarqa, ia berkata kepadanya, “Bukankah
aku sudah berpesan agar engkau bersikap santun
dan melayaninya dengan baik? Mengapa engkau
tidak melaksanakannya?” Zarqa menjawab,
“Engkau menitipkan kepadaku lelaki buta.
Sungguh, ia tidak pernah mengangkat kelopak
matanya kepadaku.”
Muhammad ibn Sirin. Dengarkanlah pengakuan
menakjubkan dari Muhammad ibn Sirin, “Aku
tidak pernah menggauli wanita, baik di waktu jaga
atau di waktu tidur (mimpi) selain Ummu Abdillah
(istrinya). Jika aku melihat wanita di dalam mimpi,
aku akan sadar bahwa dia tidak halal bagiku,
maka aku memalingkan wajahku darinya.”
Subhanallah, bravo `alaih….,
Beberapa contoh di atas adalah para lelaki sejati
yang berhati bersih. Suci. Peka terhadap dosa,
dan menghindari jerat-jerat dosa. Karena mereka
sadar, kenikmatan bermunajat hanya bisa diraih
dengan hati yang bersih. Pernah, ada yang
bertanya kepada Wuhaib ibn Ward, “Apakah
orang yang bermaksiat kepada Allah dapat
merasakan lezatnya ibadah?” beliau menjawab,
“Tidak, bahkan orang yang baru berniat
melakukan maksiat pun tidak akan bisa
merasakan lezatnya ibadah. ”
Surat cinta dari Allah Azza wa Jalla
Karena cinta, Allah mengabadikan pesan
menundukkan pandangan, dan menjaga
kemaluan di dalam kitab-Nya. Sungguh ini
merupakan bukti cinta-Nya. Cinta yang tulus dari
sang Pencipta kepada yang dicipta. Tentu, surat
cinta ini untuk kebaikan hamba-hamba-Nya. Allah
berfirman, “Qul li-l mu`minîna yaghuddhû min
abshârihim wa yahfadhû furûjahum dzâlika azkâ
lahum innallâha khabîrun bimâ yashna`ûn,
Katakanlah kepada orang-orang beriman,
‘Hendaklah mereka menjaga pandangan mereka
dan memelihara kemaluan mereka. Yang
demikian itu lebih mensucikan bagi mereka.
Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang
mereka perbuat.” (an Nuur : 30).
Tentang ayat ini, Abu Hamid al Ghazali berkata,
“Ketika aku merenungi ayat ini, meskipun
ayatnya pendek, aku menemukan tiga
makna berharga di dalamnya; pendidikan
(ta`dîb), peringatan (tanbîh), dan ancaman
(tahdîd).
Adapun pendidikan (ta`dîb) terdapat dalam,
“Katakanlah kepada orang-orang beriman,
‘Hendaklah mereka menjaga pandangan mereka
dan memelihara kemaluan mereka.” Sudah
menjadi keharusan bagi seorang hamba untuk
melaksanakan perintah tuannya dan patuh
terhadap berbagai didikannya. Jika tidak, maka ia
akan menjadi orang yang tidak beretika dan
diperkenankan hadir dalam majlisnya, dan
bersimpuh di hadapannya. Pahamilah point ini
dengan baik.
Sedangkan peringatan (tanbîh) termuat dalam,
“Yang demikian itu lebih mensucikan bagi
mereka.” Ayat ini memililiki dua makna ; pertama,
mensucikan hati mereka, dan kedua, membuat
mereka lebih kaya dengan kebaikan. Karena, az
zakah memliki arti bertambah (an numuw). Jadi
diingatkan bahwa menjaga mata akan
membersihkan hati dan memperbanyak
ketaaatan. Alasannya, jika anda tidak menjaga
mata dan membiarkannya liar, maka anda akan
melihat sesuatu yang tidak berguna bagi anda.
Dan sangat mungkin anda akan memandang
sesuatu yang diharamkan. Jika anda melihatnya
dengan sengaja. Anda mendapatkan dosa besar.
Bisa jadi hati anda akan terpengaruh oleh apa
yang anda pandang, dan anda akan binasa jika
Allah tidak menyayangi anda.
Adapun makna ancaman (tahdîd) termaktub
dalam penggalan ayat, “Sesungguhnya Allah
Mahamengetahui apa yang mereka perbuat.”
Renungan
Saudaraku,
Memandang sesuatu yang tidak halal akan
mengisi pikiran dengan hal-hal haram.
Sebaliknya, jika manusia berpikir tentang
keagungan kerajaan Allah di langit dan di bumi,
maka itulah ibadah paling utama yang akan
meningkatkan takwa, keyakinan dan derajat di sisi
Allah;
Memandang sesuatu yang tidak halal akan
meninggalkan kesedihan setelah yang dipandang
itu menghilang. Berbeda bila kesedihan itu lahir
karena melihat kondisi orang-orang muslim yang
terbantai di penjuru dunia karena membela dien
mereka, maka itu adalah ikatan pertanda
kokohnya iman dan ikatan persaudaraan,
“Innama-l mu`minûna ikhwah, hanyasanya
orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (al
Hujurat : 10);
Memandang sesuatu yang tidak halal akan
membuat manusia menghabiskan waktu untuk
dosa dan maksiat. Keduanya adalah tiket menuju
neraka. Sebaliknya, bila manusia menghabiskan
waktunya untuk beribadah kepada Allah, maka ia
akan memetik kebahagiaan dan kenikmatan
memandang wajah Allah yang Mahaindah;
Memandang sesuatu yang tidak halal akan
meneteskan airmata karena perpisahan dengan
yang dicintai. Andai saja tetesan airmata itu
karena takut kepada Allah, maka ia akan
mendapatkan naungan di bawah Arsy Allah pada
hari tidak ada naungan kecuali naungan Dzat yang
Mahakasih;
Memandang sesuatu yang tidak halal akan
mendorong kaki dan tangan bergerak kepada
sesuatu yang sia-sia dan mengundang birahi. Jika
tangan dan kaki digerakkan untuk berkhidmat
kepada Allah dan menulis ilmu dan hadits, maka
manusia akan mendapatkan ganjaran setimpal
berupa pertemuan dengan sang guru sejati di
jannah;
Bila engkau terpesona dengan kecantikan wanita
dunia, maka bandingkanlah mereka dengan
bidadari-bidadari jannah. Bidadari, Siapakah
bidadari? Kecantikan wajahnya bagaikan
sinar matahari. Andai saja ia turun ke bumi,
maka bumi dan langit akan semerbak
mewangi. Lisan manusia tidak kan berhenti
berucap tahlil, takbir, dan tasbih kepada
Allah. Cahaya matahari akan redup
sebagaimana cahaya bintang-bintang di
sekitar matahari. Orang yang berada di
dekat matahari akan merasa nyaman dan
damai. Jilbab yang yang menutupi kepalanya
lebih baik dari dunia seisinya. Kulit tubuhnya
memancarkan cahaya yang mampu
menembus tujuh puluh pakaian. Jika saja
Allah tidak menetapkan penghuni jannah
untuk tidak mati, tentu mereka akan mati
karena kecantikan para bidadari. Jika
seorang wanita tersenyum kepada
suaminya, maka jannah akan terang
benderang karena senyumannya. Jika ia
berjalan dari istana ke istana, maka ia
bagaikan matahari ia bagaikan matahari
yang tergeser di cakrawala. Dengan semua
itu, mengapa anda mudah tergoda dengan
bangkai?
Gambaran lebih indah tentang bidadari pernah
ditulis oleh Ibnu Qayyim al Jauziyyah. Tulisnya,
“Jika kamu meminta mereka untuk menikah di
jannah, mereka itu adalah para perawan yang
mengalir pada tubuh mereka darah muda. Seperti
bunga mawar dan buah apel yang tidak
terbungkus dan seperti buah delima yang mulus.
Matahari terbit dari wajahnya yang indah dan kilat
menyambar di antara sela-sela giginya ketika
tersenyum. Jika dia memeluk suaminya, dia akan
memeluk seperti pelukan antara bumi dan
matahari. Jika dia berbicara, pmebicaraannya
seperti seorang yang bercengkerama dengan
kekasihnya. Jika dipeluk, dia melekat seperti dua
ranting yang saling bertautan.
Pipinya yang bening bisa digunakan untuk
bercermin dan tulangnya yang putih kelihatan
dari balik dagingnya, jika kulit dan dagingnya tidak
tertutupi. Jika dia melihat dunia, maka antara langit
dan bumi akan dipenuhi bau wanginya, sehingga
mulut manusia akan senantiasa membaca tahlil,
takbir dan tasbih. Apa yang ada di barat dan
timur akan berdandan untuknya, dan setiap mata
akan melihatnya dan terpejam untuk melihat
selainnya. Cahayanya akan meredupkan cahaya
matahari seperti matahari yang meredupkan
cahaya bintang, dan akan beriman kepada Allah
seluruh manusia yang ada di atasnya.
Jilbab yang ada di atas kepalanya lebih baik
daripada dunia dan seisinya, hasrat untuk
menikahinya lebih besar daripada segalanya.
Semakin lama waktu bertambah, dia akan
kelihatan semakin cantik dan indah. Semakin hari
akan semakin bertambah cinta dan erat. Dia tidak
pernah haidh, melahirkan dan nifas. Suci dari
kotoran, air ludah, kencing, air besar dan kotoran
lainnya.
Kegadisannya tidak akan pernah hilang dan muda
selamanya. Kecantikannya tidak pudar dan tidak
ada rasa bosan untuk menggaulinya. Dia hanya
ingin melayani suaminya dan tidak pernah tertarik
pada selainnya dan sebaliknya, sehingga dia
merupakan puncak ketenangan dan hawa nafsu.
Jika melihatnya akan menggembirakan dan jika
diperintah untuk taat, dia pun mentaatinya. Jika
suaminya meninggalkannya, maka dia akan
menjaga diri dan keamanannya. Dia seorang
perawan yang sebelumnya tidak pernah
tersentuh oleh manusia atau jin, sehingga setiap
kali melihatnya akan menimbulkan rasa gembira.
Setiap kali berbicara dengannya, seakan di telinga
dipenuhi permata yang indah. Jika dia telanjang
(upss. Astaghfirullah…), seluruh istana dan
ruangan penuh dengan cahaya.
Jika kamu bertanya tentang usia
Dia usianya masih sangat muda
Jika bertanya tentang kecantikan
Pernahkah kamu melihat matahari dan bulan?
Jika kamu bertanya tentang matanya,
Seperti warna paling hitam di tempat yang paling
putih (sangat jelita)
Jika kamu bertanya tentang bentuk tubuhnya
Pernahkah anda melihat pohon yang langsing
Jika kamu bertanya tentang buah dadanya,
Ia seperti buah delima yang lembut
Jika kamu bertanya tentang warna kulitnya
Dia seperti yakut dan marjan
Bagaimana bayangan anda ketika wanita
tersenyum di hadapan suaminya, maka jannah
pun menjadi terang dengan senyumannya. Jika
dia pindah dari satu istana ke istana yang lain,
anda akan mengatakan matahari berpindah dari
satu poros ke poros yang lainnya. Jika suaminya
tiba, alangkah mesra sambutannya. Jika ia
memeluk betapa hangat pelukannya.
Jika dia bernyanyi, suaranya terasa nikmat di
telinga dan mata. Jika dia merayu dan merajuk,
rayuan dan rajukannya terasa nikmat. Jika dia
memeluk, tidak ada pelukan yang lebih hangat
darinya. Dan jika dia memberi sesuatu atau
menerima, tidak ada cara sebaik yang
dilakukannya.”
Abu Darda` berkata, “Man ghaddha basharahu
`an an nadhari al harami zuwwija min al huri-l `in
haitsu ahabba, barangsiapa menundukkan
pandangannya dari yang haram, ia akan
dinikahkan dengan bidadari yang ia cinta.” (Risalah
al Mustarsyidin, Haris al Muhasibi, Daru-l Salam).
Pertanyaannya, dimanakah lelaki-lelaki sejati
yang semaunya sendiri menikahi para
bidadari itu, kini??
Sebagai penutup,
Saudaraku….., yakinlah dengan apa yang
disabdakan oleh Rasul Mulia, Muhammad
Shallallahu alaihi wa sallam,
“Innaka lan tada`a syai`an ittiqâ’allâhi jalla
wa `azza illa a`thâkallâhu khairan minhu,
sungguh tidaklah engkau meninggalkan
sesuatu karena takut kepada Allah yang
Maha Agung dan Mulia, kecuali Dia akan
memberimu sesuatu yang lebih baik
darinya.” (HR. Ahmad, dan Syu`aib al Arna’uth
berkomentar, ‘Sanadnya shahih”).
Apa balasannya? Pertanyaan ini dijawab oleh Ibnu
Taimiyyah rahimahullah –sebagaimana yang
dinukil oleh Syaikh Muhammad as-Salman dalam
bukunya, Mawâridu-d dham`ân : 7/769-770.
Beliau berkata, menundukkan pandangan dari
rupa yang dilarang untuk dilihat, seperti wanita
dan amrad ‘cantik’ (lelaki tampan yang tidak
berjenggot), akan mewariskan tiga hal :
Pertama : mendapatkan kenikmatan dan
kelezatan iman yang lebih manis dan lebih
nikmat daripada apa yang ia tinggalkan karena
Allah karena siapa yang meninggalkan sesuatu
karena Allah, Allah akan menggantinya dengan
sesuatu yang lebih baik;
Kedua : menundukkan pandangan akan
mewariskan cahaya di hati dan firasat (yang
tepat dan akurat);
Ketiga : memperoleh kekuatan, keteguhan dan
keberanian di hati sehingga dia dikaruniai Allah
kekuatan bashirah dan kekuatan hujjah.
NB : Artikel ini hanya diperuntukkan bagi penulis,
tetapi semoga para pembaca –segenap ikhwan
dan begitu pula para akhwat- juga mendapatkan
manfaatnya. Ya, artikel ini tidak hanya untuk para
ikhwan tetapi juga para akhwat, karena Allah
berfirman, “Qul li-l mu`minîna yaghuddhû min
abshârihim…,Katakanlah kepada orang-orang
yang beriman, “Hendaklah mereka menjaga
pandangan mereka.” (an Nuur : 30). Ayat ini
umum, untuk ikhwan dan juga akhwat. Wallahu
A’lam.
Akhukum fillah. Ibnu Abdul Bari el `Afifi.

No comments:

Post a Comment