Thursday, December 30, 2010

PENGHANCUR AMAL

PENGHANCUR AMAL
Suatu ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya
duduk di masjid sedang menunggu datangnya
shalat Ashar. Tiba-tiba, Beliau SAW bersabda:
“Tak lama lagi akan datang calon penghuni
surga.” Mendengar hal tersebut, Anas bin Malik
penasaran dan ingin mengetahui siapa gerangan
yang dimaksud. Tak lama kemudian masuklah
seorang pria berpenampilan sederhana. Dari
janggutnya masih menetes bekas air wudhu.
Sesampai di masjid ia shalat dua rakaat. Ketika
waktu Ashar tiba, ia pun ikut shalat berjama’ah.
Keesokan harinya, diwaktu yang sama, Rasulullah
SAW mengulang lagi sabdanya, “Segera akan
datang seorang pria calon penghuni surga.”
Ternyata, sosok yang dimaksud adalah pria itu
lagi. Hal itu terjadi tiga hari berturut-turut, dan
yang dimaksud pria itu juga.
Peristiwa itu tidak hanya membuat penasaran
sahabat Anas bin Malik, tapi juga menarik
perhatian Abdullah Ibnu Umar. Ia pun tertarik
untuk mengetahui rahasia dan keistimewaan
yang dimiliki laki-laki itu. Selepas Isya’, Abdullah
Ibnu Umar sengaja membuntuti sampai ke
rumahnya. Aksi Ibnu Umar tersebut diketahui
oleh pria tersebut. “Aku lihat sejak dari masjid
engkau mengikutiku. Apa maksudmu?”, tanya
laki-laki itu.
Abdullah mengutarakan keinginannya untuk
menginap di rumah laki-laki itu. Kesederhanaan
tempat tinggal dan jamuan makan malam tak
mengundang rasa penasaran Abdullah.
Ia sengaja tidak tidur semalaman karena ingin
menyaksikan pria itu bangun dan melaksanakan
qiyamul lail. Usai shalat tahajjud ia tidur kembali
dan bangun menjelang shalat subuh.
Kemudian, bersama Abdullah bin Umar, ia
berangkat bekerja sebagai tukang batu. Sorenya
pria itu ke masjid dan malamnya pulang ke
rumah. Abdullah bin Umar mengikuti laki-laki itu
hingga tiga hari lamanya. Tidak ada yang aneh.
Pada malam terakhir menginap, Abdullah bin
Umar berkata, “Aku sengaja menginap di
rumahmu karena mendengar Rasulullah SAW
mengatakan anda adalah calon penghuni surga.
Aku ingin tahu apa keistimewaan anda sehingga
anda mendapat jaminan itu?”
Mulanya laki-laki tersebut menjawab biasa saja. Ia
pun tidak tahu. “Aku tak melakukan ibadah
apapun melebihi kebiasaanku”, katanya.
Selanjutnya ia berkata, “Aku hanya istiqomah
melakukan kewajibanku tepat pada waktunya.
Aku tak menyakiti seorang manusia pun. Aku tak
pernah dengki terhadap suatu nikmat yang
ALLAH berikan pada orang lain. Mendengar
jawaban lelaki itu, Abdullah berkata, “Inilah yang
yang telah mengangkat derajat diri anda menjadi
penghuni surga seperti yang disabdakan oleh
Rasulullah SAW.” (HR. Ahmad).
Ya, kasih sayang ALLAH meliputi semua
makhluk-NYA, baik ketika hidup di dunia maupun
hidup di akhirat. ALLAH menyiapkan surga, tak
hanya untuk orang-orang yang berkedudukan
istimewa. Orang biasa yang hanya melakukan
amalan biasa-biasa juga bisa menikmati surga.
Kebersahajaan ibadah, disempurnakan dengan
akhlakul karimah.
AMALAN BERAT PADA TIMBANGAN AKHIRAT
Di akhirat kelak, amalan yang timbangannya amat
berat adalah akhlak, sebagaimana sabda
Rasulullah, “Tak ada sesuatu yang lebih berat
dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak
yang baik.” (HR. Abu Dawud)
Akhlak inilah yang pada hari akhirat banyak
membantu kaum muslimin memperoleh surga.
Sebaliknya karena akhlak pula banyak orang yang
tergelincir masuk neraka.
Mereka inilah yang disebut-sebut oleh Rasulullah
SAW sebagai orang yang bangkrut. Nabi SAW
bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut
dari umatku ialah yang datang pada hari kiamat
dengan amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia
pernah mencaci-maki orang ini dan menuduh
orang itu berbuat zina. Dia pernah makan harta
orang itu lalu dia menanti orang ini menuntut dan
mengambil pahalanya (sebagai tebusan atas
dosa-dosanya, maka dosa orang-orang yang
menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia
dihempaskan ke api neraka.”(HR. Muslim)
Demikian utamanya akhlak baik, sehingga
Rasulullah menegaskan, “Orang yang paling dekat
denganku kedudukannya pada hari kiamat ialah
orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik
kamu adalah yang paling baik terhadap
keluarganya.” (HR. Ar-Ridha).
PENGHANCUR KEBAIKAN
Jika akhlak baik dapat mengangkat derajat
seseorang sampai pada posisi puncak sebagai
penghuni surga walaupun ibadahnya biasa-biasa
saja, yaitu merasa cukup dan tidak dengki pada
orang lain. Maka sebaliknya, jika ada rasa dengki,
maka sifat ini sangat berbahaya. Rasulullah SAW
menegaskan, “Waspadalah terhadap hasud (iri
dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis
pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu
bakar.” (HR. Abu Dawud)
Sifat dengki adalah keinginan seseorang agar
nikmat yang ada pada orang lain hilang. Sifat ini
biasanya selalu ada pada setiap pembenci,
sombong dan kikir. Bila orang lain mendapat
kebaikan, niscaya ia bersedih hati dan bila orang
lain mendapat bencana ia justru bergembira.
Umar bin Khattab pernah berkata, “Cukup sebagai
bukti si pendengki terhadapmu manakala ia
merasa gundah di saat kamu bahagia.”
Abu Al-Laits As-Samarqandi, seorang ulama
berkata, “Lima perkara akan sampai pada
pedengki sebelum kedengkiannya sampai pada
orang yang didengkinya. Pertama, kegundahan
yang tidak henti. Kedua, mendapat musibah yang
tak berbuah pahala. Ketiga, celaan yang tak
berujung pujian. Keempat, kemurkaan Rabb.
Kelima, tertutupnya pintu taufik baginya.”
Hasad adalah penyakit yang selalu menyebabkan
orang lain tersakiti dan terzhalimi. Sang pendengki
biasanya selalu meradang terhadap orang yang
tak berdosa.
Kisah Habil dan Qabil, serta Nabi Yusuf dan
saudara-saudaranya menjadi pelajaran bagi kita.
Ketika kedengkian mencapai puncaknya, ia akan
melahap apa saja yang ada di sekitarnya.
“Kedengkian memakan kebaikan sebagaimana api
memakan kayu bakar”, (HR. Abu Dawud dari Abu
Hurairah dan Ibnu Majah dari Anas)
“ Penyakit umat sebelum kamu telah menular
kepada kamu. Yaitu hasad dengki dan
permusuhan. Permusuhan tersebut ialah pengikis
dan atau pencukur. Saya tidak maksudkannya ia
mencukur rambut, tetapi (yang saya maksudkan)
ialah mengikis agama. (HR. Baihaqi)
OBAT PENYAKIT DENGKI
Sifat dengki bukan penyakit yang tak bisa diobati.
Bak penyakit kanker, untuk menghilangkannya tak
bisa dipotong ujungnya saja. Ia harus dipangkas
dan dikikis sampai ke akar-akarnya.
Sumber penyakit dengki adalah hati. Karenanya,
cara ampuh untuk mengikis dengki adalah
dengan membersihkan hati. Di antara hal yang
harus dilakukan adalah:
1. Memupuk Keikhlasan
Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit bahwa
Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga hal yang bisa
menyebabkan hati seorang mukmin tidak akan
dengki. Yaitu, ikhlas beramal, (berani) menasehati
pemimpin, tetap berjama’ah dalam barisan kaum
muslimin karena doa mereka akan melindungi
orang-orang dibelakangnya.” (HR Ahmad 4/80,
Ibnu Majah 230, al-Hakim 1/86-87)
2. Membaca al-Qur ’an
Al-Qur’an adalah obat dan yang akan membuka
tirai penghalang dari rahmat ALLAH. Firman
ALLAH, “Dan KAMI turunkan dari al-Qur’an
sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman” (QS. Al-Isra’: 82).
Juga, ALLAH tegaskan, “Hai manusia,
sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran
dari RABBmu, dan penyembuh bagi penyakit-
penyakit (yang berada) dalam dada.” (QS. Yunus:
57)
3. Bersedekah
Sedekah seperti penebus. Ia merupakan sarana
penyuci jiwa. ALLAH berfirman, “Ambillah zakat
dari harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS.at-
Taubah: 103)
4. Sebarkan salam
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasululllah
SAW bersabda, “Demi DZAT yang jiwaku ada
digenggaman-NYA, sesungguhnya kalian tidak
akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian
tidak dikatakan beriman (dengan sempurna)
sebelum kalian saling mencintai. Maukah aku
tunjukkan suatu perbuatan yang jika kalian
lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah
salam di antara kalian.”(HR. Muslim)
5. Berdoa
Cara inilah yang ditempuh orang-orang shalih
yang diabadikan dalam al-Qur’an, “Dan orang-
orang yang sesudah meraka berdoa, “Ya RABB
kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara
kami yang telah beriman lebih dulu dari kami.
Janganlah ENGKAU membiarkan kedengkian
dalam hati kami terhadap orang-orang yang
beriman. Ya RABB kami sesungguhnya ENGKAU
Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-
Hasyr: 10)
Dengan memperhatikan hal di atas, Insya ALLAH
kita bisa mengikis dengki yang merupakan
penyebab rusaknya jalinan persaudaraan umat
Islam. Seiring lenyapnya kedengkian dalam
pribadi kaum Muslimin, rasa persaudaraan akan
semakin tumbuh, berkembang dan
membuahkan karya berguna bagi umat.
Sumber Tulisan:
Sabili edisi No. 5 TH XIII 22 September 2005

No comments:

Post a Comment